Sunday, September 22, 2013

Wawancara dengan Bu Tiban

Bagi pecinta kuliner nasi krawu Gresik, sudah pasti pernah mendengar tentang rumah makan milik Bu Tiban. Dulu hanya terdapat di Jl. KH Abdul Karim dan sekarang telah memiliki cabang yang dikelola oleh saudaranya di Jl. Veteran. Maka kami menyempatkan diri untuk mampir kesana dan mengadakan wawancara langsung di sebuah warung kecil yang padat pengunjung dan terletak di depan sekolah MINU Tratee.

Dapat dilihat di dinding warung yang terkesan kurang akan penerangan tersebut lukisan portrait dari sunan - sunan yang ada di Gresik. Gresik sendiri terkenal sebagai kota santri dengan Sunan Giri nya. Yang menarik perhatian lagi adalah foto almarhum presiden RI, Abdurrahman Wahid yang akrab dikenal dengan panggilan Gus Dur ini sedang menyantap nasi krawu Bu Tiban bersama beberapa kerabat lainnya.

Hari menjelang siang dan warung nasi krawu Bu Tiban ramai pengunjung, mulai dari yang makan langsung di sana dan membungkus untuk dibawa pulang. Sambil mengamati sekeliling warung dan menunggu sebungkus nasi krawu disiapkan, dapat dilihat juga beberapa pengunjung yang datang dan pergi berlalu lalang di dalam sana.


Nasi krawu bu Tiban masih menggunakan cara tradisional dengan meng-krawuk saat mengambil nasi, untuk menjaga kehigienisannya, maka tangan Bu Tiban dilapisi dengan plastik. Setelah nasi disiapkan lalu dicampur dengan 3 jenis serundeng, ditambahkan dengan daging dan sambal. Tidak lupa juga ditanyakan "Daging saja atau campur?". Dari segi penyajian, meskipun untuk makan di tempat, nasi krawu Bu Tiban tetap dibungkus dengan daun pisang tanpa menggunakan piring sehingga sangat terasa kesan tradisionalnya.

Sambil saling mencicipi dan merasakan nasi krawu khas Bu Tiban yang terkenal gurih karena ditambahkan dengan siraman minyak di atas nasinya, maka wawancara langsung pun diadakan secara spontan. Bu Tiban sendiri melanjutkan bisnis keluarganya yang sudah menjual nasi krawu sekitar 40 tahun. Keluarganya sendiri merupakan orang asli dari Madura dan menetap di Gresik. Tidak disebutkan secara spesifik bahwa beberapa saudaranya juga berjualan nasi krawu di Gresik dan uniknya semua proses memasak dilakukan di 1 tempat dan didistribusikan. Bahan yang digunakan juga didatangkan langsung dari Madura agar tidak menghilangkan cita rasanya yang khas.

"Komentar pelanggan, meskipun sudah dibuka cabang dengan bahan dan tempat masaknya sama, rasanya itu tetap berbeda, sampai heran aku". Hal tersebut mungkin dikarenakan oleh sugesti dari pelanggan itu sendiri jelasnya. Dan sekarang juga, kiri kanan di sepanjang jalan di kota Gresik terdapat banyak penjual nasi krawu, tetapi tidak semuanya berhasil memasak nasi krawu yang asli seperti dulu.

Warung Bu Tiban sendiri sudah buka mulai jam 6 pagi sampai jam 9 malam, dan cenderung ramai pada pukul 1 siang. "Biasanya sih ramai dengan orang kantoran atau dari sekolah itu". Ditambahkan bahwa warung Bu Tiban juga menerima pesanan besar untuk acara-acara tertentu, seperti nikahan, ulang tahun, acara kantoran, dan sebagainya. Bahkan mereka pernah menerima pesanan hingga 5000 bungkus dalam sehari. Dijelaskan juga mengenai kuli pelabuhan yang dulunya menjadi sasaran dari nasi krawu sudah banyak berkurang, hal tersebut mungkin dikarenakan harganya yang juga sudah naik.

Keadaan tempat makan dari warung Bu Tiban yang masih sangat sederhana dan tradisional. Hal ini tidak membuat pengunjung merasa tidak nyaman, justru membuat antar pengunjung menjadi lebih dekat. Karena sambil menyantap nasi krawu, mereka juga berbincang-bincang dan saling berbagi cerita. Maka itu meskipun sudah banyak penjual nasi krawu lainnya, warung Bu Tiban ini tetap ramai pengunjung karena kesan ramah dan kekeluargaannya tersebut.

For the krawu rice culinary fans in Gresik, they must be familiar with the Bu Tiban's Depot. Started in KH Abdul Karim street and now already got its branch in Veteran street. We decided to visit the place and did a live interview in that small depot with so many visitors and located in the front of the MINU Tratee school.

As what we can see hanging on the wall, inside the small depot with low light condition, the portrait picture of the Sunans who came from Gresik. Gresik city is well known as the Islamic and religious city with their Sunan Giri. But the most interesting thing is the photo of the deceased ex-president of Indonesia, Mr. Abdurrahman Wahid aka Gus Dur which is eating the Bu Tiban's krawu rice with his friends in the picture.



In the afternoon, lunchtime exactly, we can see the crowds in the small depot. Including the one who eat the krawu rice in the depot or the takeaways. We take a look around the depot while waiting for the krawu rice and the other visitors also come and go around the depot.

Bu Tiban's krawu rice still use the traditional way by "krawuk"-ing the rice. In order to maintain the hygiene, Bu Tiban covered her hand using a plastic coat. She served the rice by mixing 3 kinds of serundeng and also the shredded beef and sambal. She also asked us whether we want to have the meat only or with the innards too. In terms of the serving way, even we dont do takeaways, Bu Tiban's krawu rice still wrapped in banana leaves without using any kind of modern plates in order to maintain the traditional serving way.

While we try to taste the famous Bu Tiban's krawu rice with its oily taste, we also did a spontaneus interview with her. Bu Tiban itself was maintaining her family business by selling krawu rice. They already sold it for around 43 years. Her family came from Madura but live in Gresik until now and she didnt mention much about her siblings which also sold krawu rice in Gresik. The most interesting fact, the cooking process was done in 1 place and distributed later after that. They also imported all of the ingredients and seasoning from Madura to maintain the original taste. 



"The visitors said that even there is a new branch with the same cooking process and the same ingredients, the taste itself is diffrent from each other. And that kind of thing confused me" she said. The reason behind that should be on their own mind she added. Up until know, we can see at every corner in Gresik street there are so many krawu rice seller. But not all of them succeeded in cooking krawu rice like the original one.

The depot itself open from 6AM to 9PM, and the crowds usually at 1 PM."Usually the place filled by company workers or from the school in front". She also added that her depot sometimes received catering order for big occassions, such as wedding, birthday party, office party, etc. One time, they even managed to get 5000 piece of krawu rice order for one day. She also explain regarding the stevedore, who used to be the main buyers of krawu rice has decreased for now. The reason should be the price are increasing a lot now than back to the old times.

Bu Tiban's krawu rice depot still in the old designed style building. That kind of thing didnt make the visitors feel uncomfortable but otherwise. In fact, the visitors feel much comfortable while eating the krawu rice, and they can also talk to each other sharing their stories. And thats why eventhough there are already so many krawu rice sellers in Gresik, this place still crowded with visitors because of the homey and cozy situations.

Leave a Reply